Jumat, 23 Desember 2016


Psikologi Pendidikan Islam


BAB I
PENDAHULUAN

Manusia diciptakan Allah SWT sebagai khalifah di bumi, bertujuan untuk memakmurkan dunia. Oleh karena itu Allah memberikan bekal kepadanya, segala bentuk panca indera dan kemampuan untuk berpikir. Bekal yang diberikan Allah tersebut senantiasa di pupuk dan ditingkatkan untuk mencapai kesempurnaan insani. Untuk mencapai suatu kesempurnaan insani diperlukan belajar.
Pada hakikatnya belajar diartikan sebagai proses membangun makna atau pemahaman terhadap informasi dan pengalaman. Proses membangun makna tersebut dapat dilakukan sendiri atau bersama orang lain. Proses tersebut disaring dengan persepsi, pikiran dan perasaan.[1]
Belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya”. Selain itu belajar merupakan salah satu langkah positif yang harus di tempuh manusia untuk  mengembangkan  potensi   dan  kemampuannya. Islam telah membuat konsepsi-konsepsi tentang peningkatan kemampuan dan potensi  manusia. Hal ini telah termaktub dalam kedua landasan, yaitu Al Quran dan al-Hadis.
Proses belajar dan mengajar sebenarnya telah terjadi  sejak diciptakannya Adam, sebagai  manusia pertama di bumi. Dalam kehidupan manusia selalu penuh dengan  kegiatan  yang dilakukan dengan secara  sengaja ataupun  tidak,  terencana ataupun  tidak, semua itu menimbulkan suatu pengalaman hidup yang pada dasarnya  adalah hasil  belajar.[2]



  BAB II
PEMBAHASAN

A.      HAKIKAT BELAJAR DALAM TINJAUAN PSIKOLOGI
Secara sederhana hakikat sering disamakan sebagai sesuatu yang mendasar, suatu esensi, yang substansial, yang hakiki, yang penting, yang diutamakan dan berbagai makna yang sepadan dengan pengertian tersebut. Akan tetapi, tidaklah cukup apabila hanya mengacu kepada pengertian yang sederhana seperti demikian.
Belajar pada hakikatnya adalah “perubahan” yang teradi pada diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktivitas belajar. Walaupun kenyataannya tidak semua perubahan termasuk kategori belajar. Misalnya, perubahan fisik, mabuk, gila dan sebagainya.[3]
Belajar meliputi tidak hanya mata pelajaran, tetapi juga penguasaan, kebiasaan, persepsi, kesenangan, minat, penyusunan sosial, bermacam-macam keterampilan, dan cita-cita. Belajar mengandung pengertian terjadinya perubahan dari persepsi dan perilaku, termasuk juga perbaikan perilaku, misalnya pemuasan kebutuhan masyarakat dan pribadi secara lebih lengkap.
Unsur perubahan dan pengalaman hampir selalu ditekankan dalam rumusan atau definisi tentang belajar, yang dikemukakan para ahli. Menurut Witheringson (1952) yang dikutip oleh Nana Syaodih, “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian, yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respon yang yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan”.
Pendapat yang hampir sama dikemukakan oleh Crow and Crow dan Hilard, menurut Crow and Crow (1958) “belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru”, sedangkan menurut Hilgard (1962) “belajar adalah suatu proses dimana suatu perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”.[4]
Pada hakikatnya belajar merupakan proses kognitif yang mendapat dukungan dari fungsi ranah psikomotor. Fungsi psikomotor dalam hal ini meliputi: mendengar, melihat, mengucapkan. Apapun jenis dan manifestasi belajar yang dilakukan siswa, hampir dapat dipastikan selalu melibatkan fungsi ranah akalnya yang intensitas penggunaannya tentu berbeda antara satu peristiwa belajar dengan peristiwa belajar lainnya.
Pada umumnya para ahli psikologi belajar khususnya mereka yang tergolong cognitivist (ahli sains kognitif) sepakat bahwa hubungan antara belajar, memori, dan pengetahuan itu sangat erat dan tidak mungkin dipisahkan. Memori yang biasanya kita artikan sebagai ingatan itu sesungguhnya adalah fungsi mental yang menangkap informasi dari stimulus, dan ia merupakan storage system, yakni sistem penyimpanan informasi dan pengetahuan yang terdapat di dalam otak manusia.
Menurut Bruno (1987), memori ialah proses mental yang meliputi pengkodean, penyimpanan, dan pemanggilan kembali informasi dan pengetahuan yang semuannya terpusat dalam otak.
Menurut Cronbach di dalam bukunya Educational Psychology menyatakan bahwa: learning is shown by a change in behaviour as result of experience.[5]
Jadi menurut Gronbach belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami, dan dalam mengalami itu si pelajar mempergunakan pancainderanya.
1.    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR
Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam belajar itu ada banyak sekali macamnya diantaranya yang berasal dari luar diri manusia yaitu ada faktor-faktor nonsosial dan faktor-faktor sosial, sedangkan yang berasal dari dalam diri manusia yaitu faktor-faktor fisiologis dan faktor-faktor psikologis.
a.       Faktor-faktor nonsosial dalam belajar
Faktor-faktor nonsosial adalah faktor-faktor yang boleh dikatakan juga tak terbilang jumlahnya, seperti misalnya: keadaan udara, suhu udara, cuaca, waktu (pagi atau siang,ataupun malam),tempat dan kondisinya.
b.      Faktor-faktor sosial dalam belajar
Yang dimaksud dengan faktor-faktor sosial di sini adalah faktor manusia (sesama manusia),baik manusia itu ada (hadir) maupun kehadirannya secara tidak langsung.
c.       Faktor-faktor fisiologis dalam belajar
Faktor- faktor fisiologis ini terbagi menjadi dua macam yaitu: keadaan jasmani pada umumnya dan keadaan fungsi-fungsi fisiologis tertentu.
1)      Keadaan jasmani pada umumnya
Ini yang melatarbelakangi aktivitas belajar; keadaan jasmani yang segar berbeda dengan keadaan jasmani yang kurang segar, sehingga akan mempengaruhi daya serap saat belajar.
2)      Keadaan fungsi-fungsi jasmani tertentu terutama fungsi-fungsi pancaindera
Pancaindera sebagai pintu gerbang masuknya pengaruh kedalam individu. Orang mengenal dunia sekitarnya dan belajar dengan mempergunakan pancainderanya.
d.      Faktor-faktor psikologis dalam belajar
Ada beberapa hal menurut Arden N Frandsen yang mendorong seseorang untuk belajar diantaranya adalah:
1)      Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas
2)      Adanya sifat kreatif serta keinginan untuk maju
3)      Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru, orangtua dan teman-teman
4)      Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru.
5)      Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran
6)      Adanya hadiah dan hukuman sebagai akhir daripada belajar.[6]
Apa yang dipaparkan di atas merupakan kebutuhan yang bersifat relatif yang artinya kebutuhan setiap orang tentu boleh jadi sama atau berbeda, sehingga kita tentu berusaha mengenali kebutuhan apa yang lebih dominan dalam diri kita sehingga terdorong kuat untuk belajar.
Menurut Sarwito faktor yang mempengaruhi proses belajar diantaranya adalah:
1)        Waktu istirahat
2)        Pengertian terhadap materi yang dipelajari
3)        Pengetahuan akan prestasi sendiri
4)        Pengetahuan yang kita peroleh sebelumnya mempengaruhi terhadap proses belajar yang sedang kita lakukan.[7]
Belajar merupakan pengalaman yang universal,dan setiap orang harus selalu belajar disepanjang hidupnya. Kehiupan sehari-hari penuh dengan problem yang harus dipecahkan dengan belajar. Perkataan belajar mempunyai tiga arti:
1.      Menemukan
Contohnya:  Apakah anda telah belajar bagaimana caranya memecahkan teka-teki ini? Belajar disini berarti menemukan.
2.      Mengingat
Contohnya : Apakah anda pernah belajar tentang psikologi? Belajar disini berarti mengingat.
3.      Menjadi efisien
contohnya : Apakah anda telah belajar mengendarai mobil? Belajar disini berati menjadi efisien.

Apakah anda telah belajar cara memakai dasi tanpa bercermin? Dalam contoh ini tiga arti tersebut berada secara bersama. Pertama, apakah anda telah mengatasi masalah itu untuk diri anda sendiri. Kedua, apakah anda telah mengingat langkah-langkah memakai dasi itu? Ketiga apakah anda mengembangkan kecekatan urutan perbuatan-perbuatan yang membantu mengatasi masalah tersebut?
Kesimpulannya, proses belajar itu dapat berdiri dari semua, beberapa atau salah satu langkah:
a.       Menemukan pemecahan yang asli, atau berfikir,
b.      Mengingat
c.       Menjadi efesien menerapkan pemecahan itu terhadap suatu problem atau membentuk kebiasaan.[8]

2.    TEORI BELAJAR
a.     Behaviorisme
merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Teori kaum behavoris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Belajar artinya perbahan perilaku organise sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan.
Dalam arti teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dari hal ini, timbulah konsep ”manusia mesin” (Homo Mechanicus).
Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan.
Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkahl laku adalah hasil belajar.

b.      Teori Humanistik
Pengertian humanistik yang beragam membuat batasan-batasan aplikasinya dalam dunia pendidikan mengundang berbagai macam arti pula. Sehingga perlu adanya satu pengertian yang disepakati mengenai kata humanistik dala pendidikan. Dalam artikel “What is Humanistik Education?”, Krischenbaum menyatakan bahwa sekolah, kelas, atau guru dapat dikatakan bersifat humanistik dalam beberapa kriteria. Hal ini menunjukkan bahwa ada beberapa tipe pendekatan humanistik dalam pendidikan. Ide mengenai pendekatan-pendekatan ini terangkum dalam psikologi humanistik.
Dalam artikel “some educational implications of the Humanistic Psychologist” Abraham Maslow mencoba untuk mengkritisi teori Freud dan behavioristik. Menurut Abraham, yang terpenting dalam melihat manusia adalah potensi yang dimilikinya. Humanistik lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia daripada berfokus pada “ketidaknormalan” atau “sakit” seperti yang dilihat oleh teori psikoanalisa Freud. Pendekatan ini melihat kejadian setelah “sakit” tersebut sembuh, yaitu bagaimana manusia membangun dirinya untuk melakukan hal-hal yang positif. Kemampuan bertindak positif ini yang disebut sebagai potensi manusia dan para pendidik yang beraliran humanistik biasanya memfokuskan penganjarannya pada pembangunan kemampuan positif ini.
Kemampuan positif disini erat kaitannya dengan pengembangan emosi positif yang terdapat dalam domain afektif, misalnya ketrampilan membangun dan menjaga relasi yang hangat dengan orang lain, bagaimana mengajarkan kepercayaan, penerimaan, keasadaran, memahami perasaan orang lain, kejujuran interpersonal, dan pengetahuan interpersonal lainnya. Intinya adalah meningkatkan kualitas ketrampilan interpersonal dalam kehidupan sehari-hari.
Selain menitik beratkan pada hubungan interpersonal, para pendidikan yang beraliran humanistik juga mencoba untuk membuat pembelajaran yang membantu anak didik untuk meningkatkan kemampuan dalam membuat, berimajinasi, mempunyai pengalaman, berintuisi, merasakan, dan berfantasi. Pendidik humanistik mencoba untuk melihat dalam spektrum yang luas mengenai perilaku manusia. “Berapa banyak hal yang bisa dilakukan manusia? Dan bagaimana aku bisa membantu mereka untuk melakukan hal-hal tersebut dengan lebih baik?
Melihat hal-hal yang diusahakankan oleh para pendidik humanistik, tampak bahwa pendekatan ini mengedepankan pentingnya emosi dalam dunia pendidikan. Freudian melihat emosi sebagai hal yang mengganggu perkembangan, sementara humanistik melihat keuntungan pendidikan emosi. Jadi bisa dikatakan bahwa emosi adalah karakterisitik yang sangat kuat yang nampak dari para pendidik beraliran humanistik. Karena berpikir dan merasakan saling beriringan, mengabaikan pendidikan emosi sama dengan mengabaikansalah satu potensi terbesar manusia. Kita dapat belajar menggunakan emosi kita dan mendapat keuntungan dari pendekatan humanistik ini sama seperti yang kita dapatkan dari pendidikan yang menitikberatkan kognisi.[9]
c.       Teori Psikologi Daya
Para ahli psikologi, kata daya identik dengan raga atau jasmani. Raga atau jasmani mempunyai tenaga atau daya, maka jiwa juga dianggap memiliki daya, seperti; daya untuk mengenal, mengingat, berkhayal, berpikir, merasakan, daya menghendaki, dan sebagainya. Sebagaimana daya jasmani dapat diperkuat dengan jalan melatihnya yaitu mengerjakan sesuatu dengan berulang-ulang, maka daya jiwa dapat diperkuat dengan jalan melatihnya secara berulang-ulang pula.[10]
Daya seseorang dapat dikembangkan melalui latihan, seperti; latihan mengamati benda atau gambar, latihan mendengarkan bunyi atau suara, latihan mengingat kata, arti kata, latihan melihat letak suatu kota dalam peta. Latihan-latihan tersebut dapat dilakukan dengan melalui berbagai bentuk pengulangan.[11]
Berdasarkan uraian di atas, penulis berkesimpulan bahwa setiap individu atau peserta didik memiliki sejumlah daya atau kekuatan dalam dirinya. Daya-daya itu dapat dikembangkan dalam kegiatan proses pembelajaran, termasuk daya fisik, motorik dan mentalnya, dengan latihan secara terus menerus untuk berguna bagi dirinya.   
d.   Teori Gestalt   
Teori ini berpendapat, bahwa belajar adalah bukan mengulangi hal-hal yang harus dipelajari, tetapi mengerti atau memperoleh insight atau pengertian yang mendalam.[12] Belajar menurut pandangan ini akan semakin efektif jika materi yang akan dipelajari itu mengandung makna, yaitu jika disusun dan disajikan dengan cara memberi kemungkinan peserta didik untuk mengerti apa-apa yang sebelumnya, dan menganalisis hubungan satu dengan yang lain.
Berbeda dengan teori-teori yang dikemukakan oleh tokoh behaviorisme terutama thorndike menganggap bahwa belajar sebagai proses trial and error, teori gestalt memandang belajar adalah proses yang didasarkan pada pemahaman (insight). Karena pada dasarnya tingkah laku seseorang selalu didasarkan pada kognisi yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku tersebut terjadi. Pada situasi belajar, keterlibatan seseorang secara langsung dalam situasi belajar tesebut akan menghasilkan pemahaman yang dapat membantu individu tersebut memecahkan masalah.[13] Dengan kata lain, teori gestalt menyatakan bahwa yang paling penting dalam proses belajar individu adalah dimengertinya apa yang dipelajari oleh individu tersebut. Oleh krena itu, teori gestalt ini disebut teori insight. Pendapat tesebut, terdapat persamaan makna dengan yang dikemukakan oleh Oemar Hamalik yang mengatakan bahwa, prinsip pembelajaran yang dianut oleh teori gestalt, adalah: Belajar dimulai dari suatu keseluruhan menuju bagian-bagian, Keseluruhan memberikan makna bagian-bagian tersebut, Bagian-bagian dilihat dalam hubungan keseluruhan berkat individu, Belajar memerlukan pemahaman (insight), Belajar memerlukan reorganisasi pengalaman yang kontinyu.[14]
Hal tersebut menunjukkan bahwa, belajar dengan cara berulang-ulang atau mengulangi dari semua materi pelajaran akan lebih dimengerti dan lebih mudah dipahami daripada belajar tanpa mengulangi materi pembelajaran. Artinya bahwa, belajar itu diperlukan kesabaran, keuletan, dan ketekunan.    

3.      TOKOH-TOKOH TEORI BELAJAR
Beberapa tokoh besar teori belajar antara lain adalah :
a.       Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936)
Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di Ryazan Rusia. Ia mengemukakan bahwa dengan menerapkan strategi ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.
Pavlov mengadakan percobaan laboratories terhadap anjing. Dalam percobaan ini anjing di beri stimulus bersarat sehingga terjadi reaksi bersarat pada anjing. Contoh situasi percobaan tersebut pada manusia adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu tanpa disadari menyebabkan proses penandaan sesuatu terhadap bunyi-bunyian yang berbeda dari pedagang makan, bel masuk, dan antri di bank. Dari contoh tersebut diterapkan strategi Pavlo ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan. Sementara individu tidak sadar dikendalikan oleh stimulus dari luar.
Belajar menurut teori ini adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat yang menimbulkan reaksi.Yang terpenting dalam belajar menurut teori ini adalah adanya latihan dan pengulangan. Kelemahan teori ini adalah belajar hanyalah terjadi secara otomatis keaktifan dan penentuan pribadi dihiraukan.

a.       Thorndike (1874-1949)
Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Thorndike menggambarkan proses belajar sebagai proses pemecahan masalah. Dalam penyelidikannya tentang proses belajar, pelajar harus diberi persoalan, dalam hal ini Thorndike melakukan eksperimen dengan sebuah puzzlebox. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan pada sangkar tertutup yang apabila pintunya dapat dibuka secara otomatis bila knop di dalam sangkar disentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori Trial dan Error. Ciri-ciri belajar dengan Trial dan Error Yaitu : adanya aktivitas, ada berbagai respon terhadap berbagai situasi, ada eliminasai terhadap berbagai respon yang salah, ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan.
Atas dasar percobaan di atas, Thorndike menemukan hukum-hukum belajar :
1.      Hukum kesiapan (Law of Readiness)
Jika suatu organisme didukung oleh kesiapan yang kuat untuk memperoleh stimulus maka pelaksanaan tingkah laku akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosaiasi cenderung diperkuat.
2.      Hukum latihan
Hukum latihan akan menyebabkan makin kuat atau makin lemah hubungan S-R. Semakin sering suatu tingkah laku dilatih atau digunakan maka asosiasi tersebut semakin kuat. Hukum ini sebenarnya tercermin dalam perkataan repetioest mater studiorum atau practice makes perfect.
3.      Hukum akibat ( Efek )
Hubungan stimulus dan respon cenderung diperkuat bila akibat menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. Rumusan tingkat hukum akibat adalah, bahwa suatu tindakan yang disertai hasil menyenangkan cenderung untuk dipertahankan dan pada waktu lain akan diulangi. Jadi hokum akibat menunjukkan bagaimana pengaruh hasil suatu tindakan bagi perbuatan serupa.[15]

B.       HAKIKAT BELAJAR DALAM TINJAUAN ISLAM
            Menurut Abdurrahman Saleh Abdullah, teori dalam konteks pendidikan, dapat dipahami dalam dua perspektif, yaitu: Pertama, "teori" dipergunakan oleh para pendidik untuk menunjukkan hipotesis-hipotesis tertentu dalam rangka membuktikan kebenaran-kebenaran melalui ekspresimentasi dan observasi serta berfungsi menjelaskan pokok bahasanya.
Menurut Nujayhi, seorang ahli pendidikan Mesir Kontemporer merefleksikan ketika mengatakan, bahwa perkembangan-perkembangan dibidang psikologi eksiperimental membawa kesan-kesan ke dalam dunia pendidikan, sebagaimana yang terdapat pada bidang ilmu pengetahuan khusus.
Kedua, "teori" menunjuk kepada bentuk asas-asas yang saling berhubungan yang mengacu pada petunjuk praktis.
Dalam pengertian ini, bukan hanya mencakup pemindahan ekspalanasi fenomena yang ada, namun termasuk di dalamnya mengontrol atau membangun pengalaman.
Sedangkan menurut Hamzah B. Uno, teori merupakan seperangkat proposisi yang di dalamnya memuat tentang ide, konsep, prosedur, dan prinsip yang terdiri dari satu atau lebih variabel yang saling berhubungan satu sama lainnya dan dapat dipelajari, dianalisis, dan diuji serta dibuktikan kebenarannya.[16]
Dari pandangan Hamzah tentang teori di atas, maka akan tergambar bahwa teori merupakan sebuah sistem yang dapat diuji kebenarannya oleh siapapun dan terbuka untuk dikaji ulang dalam perspektif yang sama, dan  mungkin dapat digantikan dengan sistem baru, yang sudah mengalami kajian dan penelitian lain.
Dalam pendidikan agama Islam, nilai-nilai al-Qur'an merupakan elemen dasar dalam kurikulum dan lembaga pendidikan, tidak boleh tidak, harus perhatian membawa peserta didiknya sesuai dengan nilai-nilai Qur'ani tersebut. Praktik-praktik harus dilakukan oleh para pendidik dan pertimbangan-pertimbangan nilai tidak dapat  terbatasi dengan penelitian-penelitian ilmiah melulu.
Selanjutnya apabila menerima teori ilmiah sebagai paradigma bagi teori pendidikan dengan meninggalkan fakta-fakta metafisika dari al-Qur'an, maka ilmu pengetahuan demikian hanya berkenaan dengan obyek-obyek yang dapat diamati dengan panca indra. Ini berarti, teori ilmiah tidak dapat meliputi unsur yang tidak dapat diamati dan diuji secara ilmiah.

Proses belajar pada manusia tidak terlepas dari aktifitas proses berfikir. Berfikir adalah tingkah laku menggunakan ide, yaitu suatu proses simbolis. Kalau kita makan, kita bukan berfikir. Tapi kalau kita membayangkan suatu makanan yang tidak ada, maka kita menggunakan ide atau simbol-simbol tertentu dan tingkah laku ini disebut berfikir. Berfikir menggunakan akal yang merupakan anugerah dari Tuhan. Agama islam menekankan terhadap signifikansi fungsi kognitif (akal) dan fungsi sensori (indera) sebagai alat-alat penting untuk belajar.[17]

Dari akal yang digunakan untuk berfikir maka erat kaitannya dengan proses belajar, sehingga dampak dari belajar itu memperoleh ilmu pengetahuan.
Berikut firman Allah yang secara eksplisit maupun implisit mewajibkan orang untuk belajar agar memperoleh ilmu pengetahuan, sebagai berikut:
ô`¨Br& uqèd ìMÏZ»s% uä!$tR#uä È@ø©9$# #YÉ`$y $VJͬ!$s%ur âxøts notÅzFy$# (#qã_ötƒur spuH÷qu ¾ÏmÎn/u 3 ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôètƒ tûïÏ%©!$#ur Ÿw tbqßJn=ôètƒ 3 $yJ¯RÎ) ㍩.xtGtƒ (#qä9'ré& É=»t7ø9F{$# ÇÒÈ

“(apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az Zumar: 9)

Dalam ayat ini Allah berusaha menekankan perbedaan orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu. Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan orang yang berilmu itu berbeda dengan orang yang tidak berilmu. Orang yang berilmu itu mempunyai kedudukan yang lebih tinggi. Dan hanya orang-orang yang mempunyai akallah yang bisa menerima pelajaran. Jadi orang yang tidak berakal susah untuk bisa menerima pelajaran yang diajarkan.
Allah juga berfirman dalam surah Al Isra’ ayat 36 sebagai berikut:
Ÿwur ß#ø)s? $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ íOù=Ïæ 4 ¨bÎ) yìôJ¡¡9$# uŽ|Çt7ø9$#ur yŠ#xsàÿø9$#ur @ä. y7Í´¯»s9'ré& tb%x. çm÷Ytã Zwqä«ó¡tB ÇÌÏÈ
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isra’: 36)

Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa kita sebagai umat manusia janganlah membiasakan diri untuk tidak mengetahui, dalam hal ini jangan sampai kita terbiasa tidak tahu pada hal-hal yang seharusnya kita bisa mencari tahunya, sehingga kita tahu. Tentu saja caranya yaitu dengan belajar.
Tuhan memberikan potensi kepada manusia yang bersifat jasmaniah dan rohaniah untuk belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan umat manusia itu sendiri. Potensi-potensi tersebut terdapat dalam organ-organ fisio-psikis manusia yang berfungsi sebagai alat-alat penting untuk melakukan kegiatan belajar, diantaranya adalah sebagai berikut :
1.    Indera penglihat (mata), yakni alat fisik yang berguna untuk menerima informasi visual.
2.    Indera pendengar (telinga), yakni alat fisik yang berguna untuk menerima informasi verbal.
3.    Akal, yakni potensi kejiwaan manusia berupa sistem psikis yang kompleks untuk menyerap, mengolah, menyimpan, dan memproduksi kembali item-item informasi dan pengetahuan (ranah kognitif).[18]

Islam sangat menganjurkan belajar karena dengan belajar kita bisa memiliki ilmu yang bermanfaat, dengan ilmu seseorang akan merasa aman. Khalifah keempat Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata:
الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنَ الْمَالِ. الْعِلْمُ يَحْرُسُكَ, وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالَ.
”Ilmu itu lebih baik dari pada harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan kamu akan menjaga harta”.
Sebagai seorang penuntut ilmu, sangat dianjurkan untuk pergi meninggalkan kampung halaman jika di tempatnya tidak menemukan guru untuk dia belajar. Seperti yang dikatakan oleh Ibnu Ruslan dalam Syair nya:
مَنْ لَمْ يَكُنْ يَعْلَمُ ذَا فَلْيَسْـأَلِ # مَنْ لَمْ يَجِدْ مُعَلِّمًا فَلْيَرْحَلِ
“Barang siapa yang tidak mengetahui tentang sesuatu maka sebaiknya bertanya # Barang siapa yang tidak menemukan guru maka sebaiknya bepergian”
Muhammad Al-Ahdal menjelaskan di dalam bukunya bahwasanya maksud “bepergian” diatas adalah “untuk belajar”.[19]
2.      Definisi Belajar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), secara etimologis belajar memiliki arti "berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu". Definisi ini memiliki pengertian bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai kepandaian atau ilmu.[20]
Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku manusia berdasarkan pengalaman dan latihan, dari belum tahu menjadi tahu, dari pengalaman yang sedikit kemudian bertambah.
Hilgard sebagaimana dikutip Wina Sanjaya menulis bahwa learning is the process by wich an activity originates or changed through training  producers (wether in the laboratory or in the natural enviorenment).[21] Bagi Hilgard, belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku peserta didik melalui kegiatan berupa pelatihan baik di laboratorium maupun di lingkungan yang alamiah. Hal ini dimaksudkan bahwa dari manapun sumber perubahan itu asalkan melaui pelatihan maupun pengalaman dapat dikatakan sebagai kegiatan belajar, dan yang penting untuk proses perubahan tingkah laku ini ditimbulkan sebagai akibat adanya interaksi dengan lingkungan sekitar.
Reber, penyusun buku Dictionary of Psychology, sebagaimana dikutip Muhibbin Syah, membatasi pengertian belajar dalam dua definisi, yaitu: Proses memperoleh pengetahuan, dan suatu perubahan kemampuan bereksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat.[22]
Sedangkan dalam perspektif agama Islam, belajar sebagai aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, sebagai kewajiban setiap individu Muslim-Muslimat dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan sehingga derajat kehidupannya meningkat. Allah berfirman dalam QS. Al-Mujadilah 58: 11
 ...يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ ....

 
Artinya :

… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat..... ( Q.S Al-Mujadilah: 11)

Di sisi lain, Allah SWT melalui Rasul-Nya menganjurkan orang Islam belajar hingga ke negeri China dan memerintahkan supaya menuntut ilmu dari buaian sampai ke liang lahat, menunjukkan bahwa agama Islam memandang pentingnya untuk belajar.
Dalam kitab ta’lim mu’tallim dikatakan :

أفضل العلم عام الحا ل – و أفصل العمل الحا ل
Artinya:
Ilmu yang utama adalah ilmu hal dan perbuatan yang utama adalah memelihara Al hal. Dan yang di maksud dengan hal adalah
Dari beberapa uraian di atas, dapatlah disimpulkan bahwa belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi, keterampilan, dan sikap. Karena belajar adalah dimulai sejak manusia lahir sampai akhir hayat. Salah satu contoh pada waktu bayi, seorang bayi menguasai keterampilan-keterampilan yang sederhana, seperti memegang botol dan mengenal orang-orang di sekelilingnya. Ketika menginjak masa kanak-kanak dan remaja, sejumlah sikap, nilai, dan keterampilan berinteraksi sosial dicapai sebagai kompetensi, dan seterusnya hingga dewasa berbagai keterampilan dimilikinya sesuai dengan keahlian dan profesi masing-masing. Islam memberi suatu makna bahwa belajar bukan hanya sekadar upaya perubahan perilaku, tetapi belajar juga merupakan konsep yang ideal, karena sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.
B.     Teori-teori Belajar dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Manusia diciptakan Allah swt, dalam struktur yang paling baik di antara makhluk Allah yang lain. Struktur manusia terdiri atas unsur jasmaniah (fisikologis) dan rohaniah (psikologis). Dalam struktur jasmaniah dan rohaniah itu, Allah memberikan seperangkat kemampuan dasar yang memiliki kecenderungan berkembang, dalam psikologi disebut potensialitas atau disposisi, yang menurut aliran psikologi behaviourisme disebut prepotence reflexes (kemampuan dasar yang secara otomatis dapat berkembang).[23]
Dengan demikian, maka ilmu pengetahuan mengalami perkembangan sampai kepada proses pembelajaran. Dalam perkembanganya merupakan suatu konsep-konsep atau teori-teori dalam aktivitas kegiatan belajar-mengajar.
1.       Teori Fitrah
Dalam pandangan agama Islam kemampuan dasar atau pembawaan itu disebut dengan fitrah, kata yang berasal dari fathara, dalam pengertian etimologis mengandung arti kejadian.
Kata fitrah disebutkan dalam al-Qur'an surah.Ar-Ruum/30: 30

Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.[24]
Di samping itu terdapat hadis Rasulallah saw.:
حَدَّ ثَنَاأَبُوْ مُعَاوِيَةَ عَنِ اْلاَعْمَش عَنْ أَبِىْ صَالِحٍ عَنْ أَبِىْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلهم, كُلُّ مَوْلُوْدٍ يٌوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوّدَانِهِ اَوْ يُنَصّرَانِهِ اَوْيُشَرِّكَان (رِوِاهُ اَحمَد)
Abu Mu'awiyah menceritakan kepada kami, dari al-A'masy dari Abi Shalih dari Abi Hurairah r.a berkata: Rasulallah saw. telah bersabda: setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani, atau musyrik. (HR Ahmad).[25]
Dari pengertian al-Qur'an dan Hadis di atas, dapat diambil pengertian secara terminologis sebagai berikut:
a.       Mengandung implikasi pendidikan yang berkonotasi kepada paham nativisme. Oleh karena kata fitrah mengandung makna kejadian yang di dalamnya berisi potensi dasar beragama yang benar lurus, yaitu Islam. Dengan potensi dasar ini tidak dapat diubah oleh siapa pun atau lingkungan apa pun, karena fitrah itu merupakan ciptaan Allah yang tidak akan mengalami perubahan baik isi maupun bentuknya dalam tiap pribadi manusia. Dengan demikian, ilmu pendidikan agama Islam bisa dikatakan berfaham nativisme, yaitu suatu paham yang menyatakan bahwa perkembangan manusia dalam hidupnya secara mutlak ditentukan oleh potensi dasarnya.
b.       Mengandung kecenderungan netral, dijelaskan dalam al-Qur'an surah An-Nahl/16: 78

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.[26]

Menurut Mohammad Fadhil al-Djamaly yang dikutip M. Arifin mengatakan, bahwa ayat di atas menjadi petunjuk untuk melakukan usaha pendidikan secara eksternal oleh peserta didik.[27]
Dengan demikian, pengertian fitrah menurut interpretasi kedua ini, tidak dapat sejalan dengan empirisme, karena faktor fitrah tidak hanya mengandung kemampuan dasar pasif yang beraspek hanya pada kecerdasan semata dalam kaitannya dengan pengembangan ilmu pengetahuan, melainkan mengandung pada tabiat atau watak dan kecenderungan untuk mengacu kepada pengaruh lingkungan eksternal sekalipun tidak aktif.
c.       Konsep al-Qur'an yang menunjukkan, bahwa tiap manusia diberikan kecenderungan nafsu untuk menjadikanya kafir bagi yang ingkar terhadap Tuhannya dan kecenderungan yang membawa sikap bertaqwa, menaati perintah Allah swt.
Jelaslah bahwa faktor kemampuan memilih yag terdapat dalam fitrah (human nature) manusia berpusat pada kemampuan berfikir sehat (berakal sehat), karena akal sehat mampu membedakan hal-hal yang benar dan yang salah. Sedangkan yang mampu memilih yang benar secara tepat hanyalah orang-orang berpendidikan sehat.
Sejalan dengan interpretasi tersebut, maka dikatakan bahwa pengaruh faktor lingkungan yang sengaja adalah pendidikan dan latihan berproses interaktif dengan kemampuan fitrah manusia. Dalam pengertian ini, pendidikan agama Islam berproses secara konvergensis yang dapat membawa kepada paham konvergensi dalam pendidikan agama Islam.
            Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ilmu pendidikan agama Islam dapat berorientasi pada salah satu paham filosofis saja atau campuran paham tesebut di atas. Namun apa pun paham filosofis yang dijadikan dasar pandangan, ilmu pendidikan agama Islam tetap berpijak pada kekuatan hidayah Allah swt, yang menentukan hasil akhir. 
d.      Komponen psikologis dalam fitrah
Jika diperhatikan berbagai pandangan para ulama dan ilmuwan Islam yang telah memberikan makna terhadap istilah fitrah, maka dapat diambil kesimpulan bahwa fitrah adalah suatu kemampuan dasar perkembangan manusia yang dianugerahkan Allah swt. kepadanya.
Karena memang manusia itu lahir bagaikan kertas putih bersih belum ada yang memberi warna apa pun dalam dirinya, apakah ia menjadikannya sebagai Majusi, Nasrani, atau agama yang lurus yaitu Islam, ini tergantung kepada orang tua atau orang dewasa yang membimbingnya, sehingga dengan sentuhan orang lain atau lingkungan sekitarnya baru dapat berinteraksi terhadap yang lain. Jadi peran pendidikan sangatlah berarti baginya. Karena dengan melalui pendidikan dapat mengetahui dari belum tahu akan menjadi tahu.
Dari beberapa uraian di atas tentang teori-teori belajar dalam pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), penulis mengemukakan bahwa semua teori yang para ahli kemukakan dapat dipedomani sebagai bahan referensi dalam proses pembelajaran. Namun dalam makalah ini penulis hanya memaparkan beberapa teori saja, karena semua teori ini cukup luas dan padat untuk dijadikan teori belajar dalam pembelajaran khususnya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Terutama dan paling utama yang penulis gunakan dalam pembelajaran adalah teori fitrah. Teori ini cukup layak digunakan dalam proses pembelajaran, karena teori ini berpedoman kepada Al-Qur"an dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Alasannya bahwa sumber satu-satunya belajar adalah dari Allah SWT. beserta alam dan segala isinya, yang dapat dipelajari melalui Al-Qur"an Hadis Nabi, serta teori-teori lainya merupakan tambahan dari teori-teori belajar yang ada. Karena teori-teori tersebut merupakan orientalis yang diadopsi dari teori belajar menurut Islam.








BAB III
SIMPULAN

Hakikatnya belajar adalah proses penguasaan sesuatu yang dipelajari. Penguasaan itu dapat berupa memahami (mengerti), merasakan, dan dapat melakukan sesuatu.
            Mengenai belajar dalam perpektif Islam, dalam Al-Quran disebutkan ada beberapa ayat yang menyebutkan dan menjelaskan mengenai keutamaan belajar dan perbedaan orang-orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu. Ada juga perkataan yang memerintahkan kita sebagai umat manusia untuk senantiasa belajar, karena tidak ada ilmu pengetahuan yang bisa kita dapatkan kecuali dengan belajar.
















DAFTAR PUSTAKA
Abdul latief,Juraid Manusia, Filsafat, dan Sejarah, Jakarta, PT. Bumi Aksara: 2006

Abdullah Muhammad Ibn Ahmad Ibn Hambal, Musnad Ahmad Ibn Hambal Juz. V,Beirut: Dar al-Fikr, t. Th.

Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur'an ,Jakarta: Rineka Cipta, 2005.

Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar & Pembelajaran,Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2008.

Budiningsih, Asri C, Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta:2005
Darsono, Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press: 2001.
Hamalik,Oemar op. cit., h. 108-109. Lihat juga Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran Jakarta: Bumi Aksara, 2007.

Hamalik,Oemar,Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum,Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007.

M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner,Jakarta: Sinar Grafika, 2006.
Nana Syaodih Sukmadinata,dkk, Perencanaan Pengajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 2003.

Sanjaya,Wina Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta: Kencana, 2008.

Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta, 2003.

Suryabrata,Sumardi, Psikologi Pendidikan,Jakarta: Rajawali Press, 2011.

Syah,Muhibbin,Pikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2010.

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta, PT. Rineka Cipta: 1996.

Tohirin, Psikologi Pembelaran Pendidikan Agama Islam(Berbasis Integrasi dan Kompetensi),Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006.

Uno B,Hamzah,Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran,Jakarta: Bumi Aksara, 2008.



[1] Indra Jati  Sidi,  Pelayanan  Profesional,  Kegiatan Belajar -Mengajar  yang  Efektif, (Jakarta:  Puskur  Balitbang Depdiknas: 2004), hal. 4
[2] Arif   Sukardi  Sadiman  dkk, Beberapa Pengembangan  Sumber  Bel ajar, (Jakarta: PT. Mediatama  Perkasa: 1989), h. 139
[3] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta, PT. Rineka Cipta: 1996), h. 44
[4] Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung, PT. Remaja Rosdakarya: 2009), h. 156
[5] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta, PT RajaGrafindo Persada: 2011), h.231
[6] Ibid, h.233-236
[7] Ahmad Fauzi, Psikologi Umum, (Bandung, Pustaka Setia:2004), h.46
[8] Ibid, h.48
[9] Asri Budiningsih C, Belajar dan Pembelajaran. Jakarta, Rineka Cipta:2009), h.45-49.
[10] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan....., h.265-266

[11] R. Ibrahim dan Nana Syaodih Sukmadinata, Perencanaan Pengajaran (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), h.13.
[12] Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya (Cet. IV; Jakarta: Rineka Cipta, 2003), h. 9.

[13] Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar & Pembelajaran (Cet. III; Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2008), h. 13.
[14] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran ( Jakarta: Bumi Aksara, 2007), h. 47-48.



[15]  Darsono, Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press:2001), h.79
[16] Hamzah B. Uno, Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 4.

[17] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung, PT. Remaja Rosdakarya: 2010), h. 98-99
[18] Ibid, h. 99
[19] Muhammad Al-Ahdal, Ifadah Al-Sadah Al-Umad, (Lebanon, Dar Al-Minhaj: 2006), h. 102
[20] Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar & Pembelajaran.....,h. 13.

[21] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran: Berorienasi Standar Proses Pendidikan (Jakarta, Kencana: 2008), h. 112.
[22] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru ,(Bandung, Remaja Rosdakarya:2006), h. 91.
[23] M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner (Jakarta,Sinar Grafika: 2006), h. 42.


[25] Abdullah Muhammad Ibn Ahmad Ibn Hambal, Musnad Ahmad Ibn Hambal Juz. V (Beirut: Dar al-Fikr, t. th), h. 261.
[26] M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner.....,h. 45
[27] Ibid, h.57